Header Ads

test

Kepincangan Sistem Demokrasi dalam Sistem Pendidikan


-->
Pendahuluan
pendidikan merupakan salah satu keharusan bagi tiap warga negara, siapa yang tidak berpendidikan maka ia akan tertinggal dari kemajuan sejarah kehidupan manusia. Pendidikan dalam hal ini bukan pendidikan yang secara formal dipraktekkan para borjuis sekarang ini, tetapi, pendidikan yang kita maksud adalah bagaimana manusia tahu dan mengetahui apa yang menjadi subtansial dalam kehidupan manusia, hakekat manusia adalah individu dan sosial, dua suku kata yang tak bisah dipisahkan satu sama lain, tidak ada sosial ketika individu tidak ada, dan tidak berarti kehidupan individu manusia ketika tidak secara sosial menjalani sebuah proses kehidupan.


Pendidikan formal yang kita tahu saat ini adalah sebuah tempat yang jauh dari kehidupan kita yang disebut dengan sekolah, sekolah inilah salah satu legitimasi pendidikan dari klas penguasa. Dilihat dari sejarahnya, sekolah ini berasal dari kata sekolae dari bahasa yunani yang artinya sebuah perkumpulan berdiskusi dan saling bertukar pikiran dengan orang lain. Tetapi dalam praktek sejarah adanya sekolah, ini berasal dari perkumpulan para penguasa atau raja pada masa kerjaan romawi kuno. Yang memiliki waktu luang pada waktu itu adalah dari klas penguasa, sedangkan dari kalangan bawah, dipekerjakan di kerjaan dan menjadi pelanyan para raja. Maka otomatis yang mendapatkan pemikiran yang maju dengan seringnya berdiskusi dan memiliki waktu luang yang sangat banyak itu dari pihak penguasa.

Memang benar bayak orang mengatakan bahwa sekolah sekarang hanya menjadi sebuah ajang legitimasi untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Dengan ijasa yang kita dapat dari sekolah merupakan sebuah sertifikat bahwa kita sudah menyelesaikan sebuah pendidikan yang memang sudah diarahkan untuk dipekerjakan di salah satu tempat atau pabrik-pabrik dari sang penguasa.
Sejarah penguasaan klas atas telah berulang kembali dan tak bisa kita jenih melihatnya karena dengan pendidikan mereka yang secara kurikulum telah menghegemoni kita habis-habisan sehingga apa yang benar itu bersumber dari sekolah sedangkan sekolah itu adalah milik sang penguasa. Maka otomatis segala bentuk dan kurikulum didalamnya itu mengajarkan bagaimana kita menjadi pelayan mereka. Dan para penguasa menggunakan agama sebagai pelarian mereka.
Awal Proses Pendidikan

Awal dari proses pendidikan bagi ummat manusia, adalah berwal dari sistem pendidikan dari keluarga. Ketika dilahirkan kedunia, dan mulai duduk sampai pada kita bisa berbahasa sampai pada seperti apa cara pandang kita melihat keadaan yang ada lingkungan kita, dan semuanya itu berasal dari pendidikan keluarga . maka asal mula dari pendidikan adalah dari sistem kekeluargaan.
Masih bayak masyarakat yang belum mengetahui, bahwa sistem pendidikan adalah sebuah alat untuk melancarkan hegemonisasi, ketika penguasa yang memiliki sekolah-sekolah maka secara otomatis keberpihakan kita nantinya itu kepada sang pemilik sekolah atau institusi.

Dalam sistem demokrasi sekarang ini, kita harus menjadikan sebuah demokratisasi dalam dunia pendidikan, jika kita menerapkan maka keawetan sistem peodalistik dan bentuk diskriminatif tetap akan di praktekkan dalam sistem pendidikan yang sudah kita tahu bahwa pendidikan itu adalah sebuah proses melancarkan hegemonisasi. Dengan adaya diskriminatif dalam dunia pendidikan formal adalah bentuk pendidikan yang tidak demokratis.

Membaca judul di atas kepincangan sitem demokrasi dalam dunia pendidikan, mengingatkan kita kembali pada tujuan pendidikan yang ditetapkan dalam UU No. 4 Tahun 1950, Dari Republik Indonesia Dahulu Tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran Di Sekolah untuk seluruh Indonesia, dan disahkan oleh DPR RI, berlaku untuk seluruh kalangan (seluruh rakyat Indonesia), tanggal 17-1-1954. Tujuan itu berbunyi:

“Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah memebentuk manusia sosial yang cerdas dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air” (Bab II, Pasal 3)

Sejarah Pendidikan Indonesia mencatat bahwa rumusan tujuan itu merupakan pengejawantahan dari keseluruhan isi, jiwa, dan semangat revolusi Indonesia yang di prolamirkan pada tangal 17 Agustus 1945, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu nilai-nilai dasar sekaligus prinsip dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, ialah “memberi pembinaan kepada peserta didik agar menjadi manusia yang sosialis yang cerdas, serta membangun demokratisasi pendidikan dan Negara bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat.

Dalam undang-undang dasar sebagai landasan dari beberapa undang-undang menjlaskan betapa pentingnya masalah pendidikan untuk memajukan Negara ini, tanpa pendidikan yang maju maka Negarapun tak akan pernah maju. Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan menjalankan diskriminatif dalam system pendidikan. Dengan penguasaan klas borjuis yang sudah jelas akan memihak kepada kapitalis (pemodal) maka segala bentuk yang mereka terapkan itu akan memihak pula pada kepentingan kelompok mereka sendiri. Jangan pernah mengharap banyak System pendidikan yang mempraktekkan demokratisasi pendidikan jika borjuis masih memimpin Negara ini, ingat kata bungkarno revolusi negra ini belum selesai yang akan menyelesaikan revolusi adalah klas pekerja atau klas tertindas itu sendiri.

System pendidikan yang formalis tidak pernah menjalankan system demokratisasi dalam dunia pendidikan, apa yang mereka perbuat itu hanya demi kepentingan mereka saja. Dan kemudian dengan program pemerintah yang akan mengratiskan sekolah sampai pada sekolah menengah atas SMU dan sederajatnya masih banyak memenuhi masalah, seperti dengan demoralisasi anak dari kalangan menengah sampai kalangan bawah dimana dalam sekolah yang masih dipengaruhi sifat feodalistik yang menganggap masyarakat kecil hanyalah merusak dan menjadikan kita menjadi rusak.

Menurut akau yang dengan system pendidikan yang elitis dan tidak mencerdaskan bayak peserta didik sangat tidak productive. Yang ada sekolah hanya dijadikan anak dari kalangan berpunya tempat refresing dan tempat menjari pasangan untuk pecaran yang bayak di praktekkan ABG sekarang.

Demokratisasi dalam dunia pendidikan sering juga terkendala antara pengajar dengan peserta didik. Pendidikan formal yang kita ketahui menampakkan/menonjolkan moralitas borjuis dalam menjalankan pemdidikan. Moralitas yang diterapkan akan mengembalikan kita pada system feodalisme, dimana kita harus menghormati kepala sekolah, menghormati guru. Dalam kurikulum yang tidak produktif juga yang membuat peserta didik akan kelabakan dalam melanjalan kegiatannya yang tidak sesuai dengan keinginannya ada potensi yang peserta didik punya.

Pembunuhan Karakter

Pembunuhan karakterpun bayak dilakukan dalam system pendidikan formal, seperti dengan penekanan terhadap potensi kreativitas siswa, dan harus mengikuti intruksi dari sang pengajar. Dalam ilmu filasafat materialism dialektika yang mengajarkan kita, bahwa dalam ruang dan waktu tidak ada yang sama. Maka dari itu kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang di terapkan sang pengajar tidak sesuai harapan peserta didik.

Sekali lagi aku katakana bahwa dalam system pendidikan itu adalah sebuah alat legitimasi ideology. Dimana penguasa yang mengintrol proses pengjaran di sekolah-sekolah tidak akan membolehkan jika ada staf pengajar yang mengjarkan muridnya diluar dari instruksi dari pihak birokrasi. Parah betul system borjuis ini, dimana mereka menganggap bahwa persamaan ideology di kepala setiap erga Negara akan menghasilkan ketentraman dan kedamain, memang betul apa yang dikatakan, tetapi iitu tidak sesuai dengan lingkungan masyarakat kita. Pernyataan para borjuis itu sangat tidak masuk akal dan tidak ilmiah, mereka mengeluarkan sikap sama seperti anak TK yang ingin melakukan segala apa yang mereka ihat itu sama, tetapi dengan kenyataan yang membuktikan bahwa segala sesuatu itu tak pernah sama.

Merujuk pada keseluruhan isi, jiwa, dan semangat yang terangkum dalam sejarah pendidikan Indonesia tersebut diatas menunjukkan bahwa “peran pendidikan dalam demokratisasi,” merupakan bagian tak terpisahkan dari kemajuan anak bangsa yang cerdas dan kreative. Artinya, bahwa pendidikan nasional harus besifat demokrasi yang didalamnya para kaum intelektual yang mempunyai banyak waktu luang untuk berfikir, untuk menjunjung tinggi solidaritas atas klas tertindas untuk terlepas dari kengkangan system kapitalisme pendidikan.

Maka bisa dipahami jika dalam sejarah pergerakan nasional yang banyak dipelopori para kaum intelektual progresif, bisa menjadi bahan pembelajaran bahwa dengan adanya system pendidikan yang berbasiskan kemajuan kecerdasan dan kreativitas anak bangsa, maka revolusi klas tertindas akan segera menemukan jalannya untuk menyujudkan cita-citanya yang mana didalamnya adalah memanusiskan manusia terutama klas pekerja seperti buruh, tani, kaum miskin kota, dan umumnya kaum tertindas atas system kapitalisme.

indonesia, pendidikan dalam arti proses maupun kelembagaannya dicatat sebagai “motor penggerak sekaligus “sumber inspirasi pengetahuan” dari pergerakannya. Dalam hal ini tokoh-tokoh pergerakan nasional berkeyakinan, bahwa untuk menuju Indonesia merdeka dan mewujudkan cita-cita kemerdekaannya sebagaimana dalam Pembukaan UUD. 1945, haruslah didukung oleh warga negaranya yang berpendidikan. Bahkan sejarah pergerakan nasional pun telah mencatat bahwa gerakan kebangkitan nasional bukanlah digerakkan oleh para tokoh intelktual, melainkan oleh sekelompok gerakan rakyat proresif revolusioner, maju, sadar akan ketertindasan mereka dengan sistem yang ada dan berpendidikan lebih progres dari sebelumnya.

Diskriminasi dalam dunia pendidikan

Dalam sejarah pendidikan di dunia ini, dimulai dengan adanya pengalaman-pengalaman yang dialami oleh manusia kemudian di manifestasikan kedalam pratek-praktek lalu di transformasikan kepada generasi-generasi berikutnya. Semua filsuf melakukan hak demikian dengan waktu luang yang begitu memiliki potensi besar untuk merabah alam dan sekitarnya termasuk manusia sebagai bagian yang takterpisahkan dengan alam.

Seperti yang dilakukan pemikir-pemikir sebelumnya seperti plato, socrates, aristoteles, sampai pada pmikir islam ibnu sina, ibnu rusdy dan lain sebagainya, mereka adalah pengembara-pengembara dalam mencari ilmu pengetahuan alam dan masyarakatnya. Misalnya aristoteles mulai dari yunani sampai keromah mengajarkan sang penakluk alexander agung, aristoteles mengajarkan alex dalam strategi perang dibawah pohon-pohon yang terhindar dari sinar matahari dan sedikit sejuk
Kemajuan ilmu dan pengetahuan ummat manusia, semakin besar pula peran pendidikan dalam sejarah hidup manusia, yang tidak bisa lepas dari kemajuan pendidikan adalah manusia harus memiliki waktu luang yang banyak untuk bagaimana mengembangkan ilmu pengetahuan mereka kedalam kerja-kerja. Berbicara tentang waktu luang, maka kita harus tahu siapakah mereka yang mempunyai waktu luang yang banyak tersebut.?

Dalam sejarah ummat manusia terkhusus pada kemajuan pendidikannya, yang memiliki waktu luang adalah mereka orang-orang yang ekspedisi (penjelajah) dan para anak kaum priayi pada masa kejayaan feodalisme, para tuan-tuan budak. Nah timbul pertanyaan., bagaimana dengan anak kaum yang bukan dari kalangan bangsawaan / keluarga nigrat yang disebut kaum terpinggirkan / budak dan sebagainya.?

Tentu mereka hanya bisa berfikir bagaimana mereka bisa hidup dan menghidupi keluarga mereka dengan menghamba pada tuan feodal atau tuan budak dan bahkan tuan kapitalis, mereka tak memiliki waktu luang untuk mengenyam yang namanya pendidikan atau tak memiliki waktu luang untuk berfikir bagaimana pendidikan tersebut. Diskriminatif sudah nampak jelas bahwa yang jauh dari dunia pendidikan adalah mereka-mereka yang tidak memiliki fasilitas atau terpinggirkan.

Diskriminatif sudah terjadi pada masa sebelum manusia mengenal yang namanya pendidikan formal seperti sekarang yang di naungi oleh negara sebagai penanggung jawab, pada zaman perbudakan, feodalisme, sampai pada masa kejaan kapitalisme sampai sekarang diskrimanasi bagi kaum tertindas sudah berjalan berabad-abad lamanya, sedangkan kita ketahui sepanjang sejarah ummat manusia kaum yang terpinggirkan inilah yang berperan besar, bekerja keras dalam kemajuan peradaban umat manusia. Maka dengan secara langsung kaum intelektual diseluruh dunia berhutang besar kepada rakyat tertindas dan kaum intelektual sudah seharusnya mendukung sepnuhnya dan membebaskan mereka menuju kemakmuran dan kesejahtraan rakyat tertindas.

Ditulis Oleh: Bustamin Nanda
(Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro di UNISMUH Makassar. Anggota Front Mahasiswa Demokratik. Anggota Perhimpunan Rakyak Pekerja Kota Makassar)

No comments