Header Ads

test

Manifesto Jaringan Gerakan Mahasiswa Kerakyatan (JGMK)

Situasi Internasional

Banyak negara – negara dibelahan dunia saat ini sedang mengalami eskalasi ekonomi politik yang sedang memanas akibat dunia pasar kapitalistik yang sedang bergejolak. Krisis kapitalisme yang berakar pada kontradiksi pokok didalam sistem kapitalisme hingga kini belumlah usai dimana penyebab utamanya adalah krisis kelebihan produksi. Landasan tersebut bersama dengan komposisi kapitalisme membuat krisis muncul dalam berbagai bentuk dan komposisi geografisnya. Krisis berawal dari perbankan  AS dan finans global (2007-09) ke produksi (2009-2010) menuju ke finans Negara dan pendapatan, terutama di Uni Eropa (2010-2011). Perang mata uang antara Cina dan Amerika, pertarungan pemerintah-borjuasi AS dengan borjuasi-pemerintah Uni Eropa sedang berlangsung. Ini yang kemudian menimbulkan gerakan rakyat  mulai bermunculan mulai dari seluruh afrika utara dan timur tengah, dan kesempatan ini dimanfaatkan pemerintahan kiri di Amerika Latin yang sedang melakukan konsolidasi atas gejolak kapitalistik yang sedang berjalan, demikian juga di eropa barat termasuk Yunani dan Spanyol.

Situasi Nasional

Hingga ke Indonesia saat ini, banyak permasalahan yang muncul akibat kepentingan elite – elite politik dalam perjalanannya menuju kekusaan (pemilu) 2014. Mulai dari kasus korupsi, gempuran terhadap partai Demokrat, perpecahan partai – partai borjuasi, penyuapan ke mahkamah konstitusi, dan lain sebaginya membuktikan bahwa ditingkatan elite partai borjuasi saat ini hanya mementingkan keberlangsungan mereka untuk berlenggang di kekuasaan berikutnya. Disisi lain, Penduduk miskin Indonesia sendiri pada Tahun 2010 mencapai angka 31.023.400 orang, atau sekitar 13.33 % dari total Jumlah Penduduk Indonesia. Angka ini diyakini lebih jika diukur dari pendapatan dibawah 2 Dollar perhari. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPA) hingga bulan Mei 2011 ini, sebesar 6,08 persen dari Total Jumlah Penduduk Indonesia. Berbagai macam pola dan tingkah laku institusi pemerintahan yang ada dapat dilihat dari berbagai media massa yang ada, mulai dari media elektronik, cetak, dan lain sebagainya yang mengakibatkan terjadinya bahan pembicaraan masyarakat hingga hari ini. Mulai dari belum adanya kesejahteraan, keadilan, kemakmuran, dan perlindungan ke masyarakat itu sendiri.

Gerakan Rakyat

Dengan kondisi kebobrokkan Negara saat ini, banyak perlawanan yang dilakukan oleh rakyat dan itu terjadi dimana – mana. Mulai dari perlawanan yang dilakukan oleh buruh, petani, pedagang, nelayan, termasuk juga oleh gerakan – gerakan rakyat lainnya. Perlawanan rakyat tersebut mulai telegitimasi kekuasaan politik borjuasi baik itu pemerintahan maupun seluruh partai politik yang saat ini duduk di parlemen. Berbagai macam bentuk perlawanan pun muncul, mulai dari pemblokiran tol, mogok kawasan, mogok makan, pembakaran gedung dan kantor serta alat berat hingga bentrok dengan aparat bersenjata dan lain sebagainya. Pelawanan terjadi bukan saja disebabkan ketika hak hidup mereka dirampas, melainkan juga karena ingin menuntut hidup yang lebih sejahtera, bahkan ketidakbecusan birokrasi pun memicu aksi-aksi massa.

Mahasiswa dan Gerakannya Hari Ini

Sebuah perjalanan perjuangan rakyat Indonesia, mulai dari pejuangan merebut kemerdekaan hingga tumbangnya rezim orde baru, mahasiswa (pelajar) selalu di indentikan dengan perjuangan  gerakan rakyat. Latar belakang tersebut yang kemudian menjadikan gerakan mahasiswa berada pada garis perlawanan dengan gerakan rakyat hingga hari ini. Mulai dari tumbangnya rezim orde baru sampai detik ini, gerakan mahasiswa memiliki kondisi yang praktis cair ditengah dominasi neoliberal yang menghegemoni selama ini. Sementara dominasi neoliberalisme terus menggepur disegala sektor, termasuk pendidikan. Gempuran Neoliberalisme di perguruan tinggi dapat kita lihat dari pola kebijakan kampus dan kondisi mahasiswa itu sendiri. Kurikulum yang diterapkan adalah kurikulum yang pro pasar. Hari ini umum juga diketahui bahwa penerapan NKK/BKK gaya baru terlihat dari pembatasan jam kegiatan dikampus, absensi mahasiswa, penutupan ruang demokrasi bagi mahasiswa. Beberapa kampus ternama yang ada mendorong mahasiswanya untuk menjadi Enterpreneur muda, dimulai dari bangku kuliah. Pola pikir ini kemudian yang membentuk seorang mahasiswa menjadi pengusaha – pengusaha muda yang bersifat borjuistik hingga budaya – budaya yang tercipta sekarang seperti hedon, apatis, dan individual. Ditambah lagi kampus yang mendorong mahasiswanya untuk turut serta sebagai tenaga kerja murah dalam proyek penelitian kampus, yang sejatinya adalah untuk kepentingan kaum pemodal. Biaya pendidikan yang tinggi mengakibatkan hanya orang – orang yang mampu dan berduit yang dapat mengenyam pendidikan tersebut.

Belakangan ini juga, hadirnya  organisasi – organsasi intra kampus yang ada tidak mampu menjawab setiap persoalan yang ada ditingkatan mahasiswa. Dapat kita lihat lembaga internal kampus yang ada kini telah menjadi Event Organization (EO) yang lebih sering mengadakan acara yang bersifat senang – senang di lingkungan mahasiswa, mulai dari acara musik, olahraga, seminar, dll. Akan tetapi tidak mampu menjawab persoalan demi persoalan yang ada ditingkatan mahasiswa, seperti masalah DO yang dikeluarkan kampus, tidak dapat membayar SPP, absensi, dll. Organ –organ ini tidak mampu untuk membangun satu kesatuan pikiran dan tindakan di mahasiswa mulai dari fakultas hingga ke tingkatan Universitas ataupun bentuk solidaritas lainnya. Sedangkan untuk organisasi – organisasi extra kampus, yaitu organ gerakan mahasiswa, sudah menjadi pendiskusian umum bahwa hari ini gerakan mahasiswa mengalami penurunan baik secara kualitas maupun kuantitas. Secara kuantitas dapat dilihat mulai dari mobilisasi mahasiswa yang minim dalam setiap aksi massa dan penurunan jumlah keanggotaan dalam organisasi gerakan mahasiswa. Secara kualitas, gerakan mahasiswa tidak mampu melakukan kepemimpinan ide dan praktek juga tidak mampu membangun posisi tawar ditingkatan kampus. Kecenderungan gerakan mahasiswa yang mengedepankan isu – isu yang jauh dari sektoralnya memperparah keadaan ini. Isu yang jauh dari ruang lingkup kehidupan kampus menjauhkan gerakan mahasiswa dari basis massa mahasiswa itu sendiri.

Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Dalam situasi dan kondisi objektif yang ada saat ini baik internasional, nasional dan khususnya mahasiswa hari ini, jelas sangat dibutuhkan gerakan mahasiswa yang mampu mendobrak perubahan yang ada. Namun gerakan ini tidak akan efektif dan maksimal jika hanya dilakukan dengan cara sporadik dan eksklusif. Karena hanya akan menjadi isu lokal dan menyulitkan terbangunnya solidaritas dan kekuatan penekan (Pressure Group) yang lebih massif. Sangat dibutuhkan persatuan gerakan mahasiswa diberbagai tingkatan daerah hingga membentuk persatuan yang mempunyai satu tujuan bersama.
Adapun beberapa point yang dapat dirangkum dan harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa saat ini, adalah :
  1. Mengembalikan gerakan mahasiswa ke isu – isu sektoral yang ada ditingkatan mahasiswa.
Seperti yang sudah dijabarkan diatas, kecenderungan gerakan mahasiswa hari ini adalah mengedepankan isu – isu yang jauh dari sektoralnya. Tidak pernah berangkat dari permasalahan yang ada “dirumah sendiri” seperti persoalan ditutupnya ruang demokrasi mahasiswa melalui Badan Perwakilan Mahasiswa/BEM, NKK/BKK, melonjaknya pembayaran SPP, sistem pendidikan yang penuh dengan persaingan, dan sebagainya. Akan tetapi lebih kepada ruang lingkup yang jauh dengan permasalahan ditingkatan mahasiswanya sendiri. Pada saat aksi massa‘98 yang sangat besar – besaran membuktikan bahwa gerakan mahasiswa di saat itu terjebak dalam situasi elite politik yang memanfaatkan momentum tersebut. Meskipun pada saat itu sangatlah besar gerakan mahasiswa yang turun kejalan dan memiliki musuh bersama dengan rakyat pada saat itu. Akan tetapi bila kita melihat lagi pasca aksi besar – besaran tersebut terlihat kecenderungan gerakan mahasiswa menurun secara kuantitas. Ini disebabkan karena persoalan ditingkatan sektoral mahasiswa belumlah terselesaikan. Untuk mengukur secara kuantitas dan kualitas gerakan massa tersebut ke dalam organ yang ada maka akan lebih baik berangkat dari persoalan sektoral yang ada ditingkatan mahasiswa.

  1. Meningkatkan kembali kuantitas dan kualitas gerakan mahasiswa sesuai kondisi objektif sekarang.
Seperti yang ada di point pertama, kecenderugan gerakan mahasiswa sekarang tidak berangkat pada persoalan sektoral yang ada, ini mengakibatkan jumlah dan mutu gerakan mahasiswa pada saat ini mengalami penurunan. Dalam setiap aksi massa yang ada, kita dapat melihat kondisinya bahwa sangatlah kecil mobilisasi massanya dan tidak mampu melakukan perlawanan dan solidaritas yang ada dalam tiap kampus. Membangun sebuah bentuk propaganda, adalah satu faktor untuk meyakinkan setiap mahasiswa untuk memperjuangkan akan hak – haknya dalam kampus dan diluar kampus. Propaganda tersebut dapat dituangkan melalui media – media yang ada (Facebook, terbitan, website, pamphlet, selebaran, dll) Ini kemudian yang menjadi salah satu terbentuknya garis politik gerakan tersebut yang kemudian memacu kesadarannya. Dan tidak berhenti dipropaganda saja tentunya, melakukan aksi massa, kepemimpinan ide dan praktek serta melakukan posisi tawar akan berguna untuk meningkatkan kembali kuantitas dan kualitasnya.

  1. Membangun perspektif gerakan dan kemandirian di lembaga-lembaga intra kampus dan ditingkatan massa mahasiswa.
Sangat banyak juga kita temui dibeberapa kampus badan – badan perwakilan mahasiswa seperti BEM/BPM, Senat, HMJ, dll. Dan ini ada dibeberapa kampus ternama maupun kampus yang belum besar namanya saat ini. Badan perwakilan tersebut jika diteliti mengandung makna bahwa sebuah organ intra kampus menjadi perwakilan akan suara – suara mahasiswa, baik ketika berbicara prestasi akademik maupun persoalan – persoalan yang ada ditingkatan mahasiswa yang berkaitan dengan kebijakan kampus. Akan tetapi, lagi dan lagi persoalan dan persoalan yang ada tidak mampu diselesaikan oleh badan – badan atau perwakilan suara dari mahasiswa tersebut. Sehingga solidaritas juga tidak muncul antar mahasiswa yang satu dengan yang lain, karena tidak mampu dimotori oleh lembaga – lembaga kampus tersebut. Ditambah lagi dengan kesan bahwa lembaga tersebut sangatlah ekslusif sehingga tidak memandang penuh persoalan yang ada bahkan mengabaikannya. Hanya dengan membangun perspektif gerakan dan kemandirian di tingkatan kampus maka dapat mengikis kesan yang tercipta dan menumbuhkan rasa solidaritas serta tidak terjebak dalam pola pikir birokrasi kampus yang selama ini ada.

  1. Bersentuhan dengan gerakan rakyat dan membangun perspektif kelas
Menjadi keharusan bagi gerakan mahasiswa untuk membangun perspektif kelas disektoralnya. Dalam perspektif bahwa Neoliberalisme adalah masalah utama bagi rakyat pada umumnya dan dunia pendidikan pada khususnya dimana kontradiksi yang terjadi adalah penghisapan kelas borjuis terhadap kelas proletar/rakyat pekerja maka keberpihakan yang harus dibangun adalah kepada kelas pekerja itu sendiri dan pembangunan kesadaran kelas ditingkat massa mahasiswa. Harus disadari oleh kaum mahasiswa bahwa selain karena pada umumnya mereka berasal dari latar belakang kelas pekerja nantinya setelah mereka lulus dan mengambil sertifikat Sarjana yang selama ini dinanti – nanti, mereka sejatinya dicetak menjadi seorang pekerja, dimanapun seorang mahasiswa tersebut ditempatkan. Kesadaran kelas ini akan semakin di asah lewat pengintregasian/partisipasi aktif gerakan mahasiswa ke dalam perjuanagan kelas pekerja itu sendiri. Pengintegrasian tersebut dalam bentuk yang sederhana dapat dilakukan lewat peran aktif dalam aksi – aksi buruh dan sektoral rakyat lainnya. Sehingga jika mahasiswa tersebut lulus dari bangku perkuliahan maka terbangun pula watak kelasnya, misalnya mahasiswa yang nantinya menyandang gelar Sarjana Ekonomi/SE, maka yang ada pada dirinya adalah perspektif ekonomi kerakyatan, sedangkan jika lulus dengan gelar Sarjana Hukum maka yang ada pada dirinya adalah pemanfaatan ilmu hukumnya untuk melindungi sepenuhnya hak legal rakyat, dll.

Point – point yang dijabarkan diatas adalah beberapa faktor dari kondisi objektif Mahasiswa dan gerakannya saat ini..Ditambah lagi situasi ekonomi – politik yang sedang bergejolak di daerah dan Nasional. Berangkat dari persoalan tersebut , maka ada beberapa kawan organ lokal gerakan mahasiswa di daerah yang sepakat dan mempunyai perspektif yang sama akan kondisi tersebut melalui pendiskusian. Diantara beberapa daerah tersebut adalah, Yogyakarta (Resista), Medan (Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi/GemaProdem), Makassar (Front Mahasiswa Demokratik/FMD), Polman (Sentral Gerakan Mahasiswa Progresif/Sergap), Sumbawa (Barisan Pemuda dan Mahasiswa Progresif/BPMP), Samarinda (Konsentrasi Mahasiswa Progresif/Koma Progresif). Hasil diskusi yang telah dibangun selama ini berdasarkan kondisi objektif tersebut adalah membentuk sebuah jaringan yang progresif. Jaringan tersebut dibentuk dengan nama Jaringan Gerakan Mahasiswa Kerakyatan/JGMK. Dengan tujuan membangun solidaritas, kekuatan penekan (Pressure Group) yang lebih massif dan bersentuhan dengan gerakan rakyat. Dengan menyebar propaganda, pendidikan, diskusi bersama, aksi dan statement bersama, serta bentuk solidaritas – solidaritas lainnya merupakan strategi untuk memperkuat jaringan ini. Masih banyak lagi beberapa point yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa saat ini dan itu tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua gerakan mahasiswa saja, akan tetapi melalui persatuan berskala nasional.

Kita tidak tahu, kapan momentum bangkitnya perlawanan rakyat secara massif akan tercipta. Kita tidak tahu, kapan situasi revolusioner akan terjadi. Daerah manakah yang penjadi picu, sektor atau isu apakah yang bisa menjadi picu. Tetapi yang pasti kita harus bergerak dan bekerja secara sistematis, terorganisir. Hanya dengan inilah, kita bisa memastikan bahwa kita akan menjadi bagian, dan jika saja kekuatan kaum revolusionernya cukup, maka kita akan terlibat ketika ledakan perlawanan massa berkobar, ketika situasi revolusiner tercipta di hadapan kita. Dan untuk merebut perubahan dari tangan borjuasi saat ini, jelas membutuhkan jumlah kaum revolusioner yang massal. Tidak cukup hanya dengan jumlah ratusan kaum revolusioner, tidak cukup hanya dengan seribu kaum revolusioner, melainkan membutuhkan puluhan ribu kaum revolusiner bahkan ratusan ribu. Ribuan kaum revolusioner bisa dihasilkan jika saja kita memiliki organisasi revolusioner yang memiliki program dan strategi yang tepat dan diisi oleh mereka yang aktif berjuang demi terciptanya suatu revolusi yang sebenarnya.


belajar selagi muda, berjuang selagi bisah

No comments