Header Ads

test

Tanggapan Aksi "Bela Rakyat" 121

Baru-baru ini terdengar lagi seruan dari persatuan BEM se Indonesia, akan mengadakan aksi "Bela Rakyat" tersebar di sembilan titik di seluruh wilayah Indonesia. Aksi tersebut merupakan tanggapan Mahasiswa dengan adanya kebijakan baru dari Rezim penguasa, pada awal tahun 2017 akan mengeluarkan kebijakan yang dianggap tidak Pro terhadap kepentingan rakyat indonesia. Kebijakan tersebut, terdapat dua point penting dalam tuntutannya yaitu; pertama berupa rencana akan di naikkannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), kemudian yang kedua persoalan kenaikan harga pengurusan surat STNK atau BPKB bagi pemilik kendaraan.


Aksi 121 "bela rakyat" yang melibatkan BEM seluruh Indonesia, baik terlibat secara langsung dalam aksi tersebut maupun tidak langsung dengan melalui statement, dukungan, yang di sebar melalui media elektronik. hal ini merupakan suatu bentuk kebangkitan gerakan mahasiswa indonesia yang dalam sejarah nya mengalami fluktusi gerakan. gerakan mahasiswa dalam aksi "bela rakyat" meskipun masih sebatas gerakan presure (tekanan), dan memiliki pola gerakan yang lemah dalam menganalisis situasi ekonomi politik pada pase kapitalisme, serta perjuangan membela rakyat umum, apalagi perjuangan klas masih lah sangat jauh dari harapan. Hal ini di lihat dari seruan aksi mahasiswa yang menyebutkan bahwa aksi mahasiswa adalah upaya mewujudkan gerakan reformasi jilid II, artinya bahwa gerakan mahasiswa, sebagai kaum intelektual ingin mengulang sejarah pahit gerakan mahasiswa 1998 yang sama-sama menyerukan gerakan reformasi dan berujung pada kegagalan. meski pada awal gerakan mahasiswa 1998 adalah merupakan bentuk aksi massa merebut ruang-ruang demokrasi indonesia yang di tutup rapat-rapat oleh rezim orde baru dan militer pada masa itu. jika dibandingkan dengan aksi mahasiswa pada 121 kemarin, meskipun sama mengingin adanya gerakan reformasi, namun masih sangat sangat jauh berbeda, baik secara kuantitas, maupun secara kualitas.
Gambar diambil dari akun twitter BEM Indonesia https://twitter.com/bem_indonesia
Gambar diambil dari akun twitter BEM Indonesia
Gerakan mahasiswa pada aksi 121 kemarin, lebih pada gerakan seremonial yang tidak menghasilkan apa-apa, ini dilihat dari nota kesepahaman yang dibuat oleh kedua belah pihak antara perwakilan massa aksi mahasiswa dengan perwakilan pemerintah. dalam nota tersebut sama sekali tidak menggambarkan adanya tekanan secara serius bagi rezim penguasa, dan hanya memberikan janji serta harapan palsu bagi rakyat. satu pariabel dari gerakan mahasiswa telah terbantahkan, dan menimbulkan pertanyaan besar, siapa sebenarnya yang mahasiswa bela, rakyat atau penguasa?

Sejarah umat manusia adalah sejarah pertentangan kelas, pertentangan kepentingan antara klas budak Vs tuan budak, hamba tani Vs tuan tanah, pengusaha Vs buruh, dan singkat katanya adalah pertentangan klas antara kelas penindas Vs klas tertindas. Mahasiswa merupakan kelas menengah dalam analisis kelas, artinya bahwa kaum intelektual (mahasiswa) merupakan kelas yang tidak jelas keberpihakannya kepada kepentingan klas tertintas (rakyat tertindas), namun akan lebih jelas keberpihakannya pada klas penindas (penguasa dan pengusaha). Maka dari itu, adanya nota kesepahaman dalam aksi 121 yang tidak jelas dan bukan memberikan solusi bagi rakyat tertindas, merupakan watak dari Mahasiswa. Gerakan mahasiswa di era neoliberalisme, telah kehilangan platform perjuangan yang benar-benar membawa kepentingan rakyat tertindas, bukan mengilusi rakyat dengan aksi "bela rakyat" tapi pada kenyataannya arah gerakan nya tidak jelas, padahal mahasiswa adalah kaum intelektual yang memiliki wawasan luas, serta daya kritis dalam menganalis, namun nyatanya tidak mempuni dalam aksi 121 kemarin.

Meskipun aksi 121 kemarin belum menemukan jawaban jelas, akan tetapi perlu kita apresiasi bentuk gerakan yang mahasiswa bangun, dan kembali menata, menganalisis secara kritis apa sebenarnya yang benar-benar butuh di perjuangkan. karena hanya mahasiswa lah yang memiliki kesempatan untuk membaca, dan menganalisis seituasi yang sedang bergerak.

Beberapa hal yang mungkin bisa kita pelajari bersama dan di diskusikan bersama sebagai mahasiswa indonesia; (1) tentang ruang-ruang demokrasi yang semakin tertutup, kebebasan membaca segala mcam buku, kebebasan berorganisasi, kebebasan berpendapat, serta kebebasan berkeyakinan, dan bentuk hak-hak kebebasan lainnya. (2) mengenai liberalisasi sektor publik seperti pendidikan, dan kesehatan. (3) mengenai persoalan issue SARA yang beberapa tahun belakangan ini semakin nampak dan tidak ada tindak pencegahan yang serius bagi pemerintah malah bersekongkol dengan pelaku SARA, dan pelaku pelanggaran HAM. (4) mengenai persoalan lapangan pekerjaan dan kehidupan yang layak bagi kaum Buruh. (5) mengenai perjuangan untuk keluar dari sistem kapitalisme-neoliberalisme sebagai dasar dari segala bentuk permasalahan negeri ini, tentunya dengan akan digantikan dengan sistem yang memanusiakan manusia.

Kelima poin tersebut, mestinya menjadi seruan umum bagi seluruh mahasiswa, bukan hanya mahasiswa Indonesia, namun Mahasiswa seluruh dunia harus menyerukan itu. sekarang-sekarang ini, pembungkaman demokrasi marak dilakukan oleh penguasa, lihat kasus penangkapan aktivis mahasiswa papua, dan aktivis pro demokrasi. melalui alat represif negara (TNI dan POLRI) memperkosa demokrasi indonesia. pendidikan juga kian semakin tak terjangkau oleh rakyat, kesehatan semakin di perjual belikan, serta kurang lapangan pekerjaan dan pemberlakuan politik upah murah bagi kaum buruh/pekerja. hal ini lah yang seharus nya menjadi seruan di aksi 121 mahasiswa indonesia, bukan reformasi, akan tetapi revolusi demokratik, dan mengusir sistem kapitalisme-neoliberalisme di tanah ibu pertiwi demi terbebasnya rakyat indonesia dari penindasan dan penghisapan manusia dengan manusia lainnya.  hidup rakyat 3x...!

Ditulis oleh: Bustamin           

   

No comments