Header Ads

test

Dimensi Kemanusiaan dan Wajah Konsumerisme di Bulan Ramadhan


Bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia, bulan Ramadhan adalah bulan suci sebagai media pengampunan atas dosa-dosa untuk kembali fitrah—bak bayi-bayi yang baru lahir. Pada bulan Ramadhan, juga pintu surga dibuka lebar sedang pintu neraka ditutup rapat, segala perbuatan amal sholeh mendapat ganjaran amal yang berlipat ganda dan belenggu setan turut diikat erat. Tak lain dan tak bukan, itu adalah kenikmatan bulan suci Ramadhan yang ditawarkan Tuhan kepada hambanya.

Menjalankan ibadah Puasa dan menunaikan Zakat sebagai intisari penting dalam meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan di bulan Ramadhan, memiliki esensi tidak hanya pada tinjauan habl min Allah (Hubungan Kepada Allah) tetapi lebih kepada habl min al-nas wa habl min al-alam (Hubungan kepada sesama manusia dan alam).

Dimensi Kemanusiaan

Puasa tidak hanya dimaknai sempit—sekadar menahan lapar dan dahaga saja, tetapi berkaitan erat dengan dimensi kemanusiaaan dalam menumbuhkan kesadaran diri bahwa diluar sana masih banyak orang-orang tengah mengalami penderitaan kelaparan atas belenggu nasib kemiskinan yang disebabkan diluar dari hal transenden.

Kita diajarkan untuk sedikit merasakan apa yang mereka rasakan, bahwa yang namanya kelaparan dalam balutan kemiskinan itu sungguh menyedihkan.

Begitupun halnya dengan menunaikan Zakat, tidak hanya dimaknai sempit—sekadar ibadah formal sekali dalam bulan Ramadhan, tetapi dimaknai sebagai bukti rasa simpati kemanusiaan dan keadilan, saling mencintai dan membina persaudaraan.

Memberikan sebagai harta kepada orang yang membutuhkan mengajarkan kita disisi lain bahwa diluar sana banyak orang-orang yang membutuhkan uluran tanganan untuk sekedar dapat bertahan hidup.

Kedua hal tersebut dapat menjadi tindakan rill jika kita menyelami makna yang terkandung didalamnya dalam suasanan hati yang bersih dan penuh keikhlasan.

Wajah Konsumerisme

Syahdan, ada fenomena kongrit yang seharusnya juga tidak luput dari perhatian kita seperti hal pentingnya pembahasan diawal tadi, yaitu persoalan meningkatnya konsumerisme di bulan Ramadhan. Menurut hemat penulis, bisa saja dengan kebiasaan itu dapat mengurangi kadar ketaqwaan kita.

Konsumerisme di bulan Ramadhan ini termanifestasi dalam kebiasaan berlomba-lomba mengumbar makanan dan tergoda dengan beragam tawaran discon diberbagai pusat perbelanjaan. Anehnya, harga kebutuhan pokok dibulan Ramadhan itu kan hamper semuanya melonjak naik, justru tingkat konsumsi masyarakat makin tinggi pula. Terlihat saat masuk waktu berbuka puasa, hamper semua jenis makanan ada diatas meja dan untung-untung jika semuanya dapat dihabiskan. Dan lebih mirisnya, berbuka puasa justru dijadikan ajang balas dendam oleh sebagian banyak orang.

Memanglah tidak salah sebagai seorang manusia normal yang selalu ingin memiliki dan membeli ini itu (konsumerisme) dimana pun serta di waktu kapan pun. Namun substansi di dalam puasa sangatlah bertolak belakang dengan sifat manusia yang satu ini. Dimana substansi puasa yang diwajibkannya agar seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu (konsumtif).

Jelas Tuhan tidak suka dengan orang yang berleih-lebihan. Hal ini pun cukup membuat dilematis bagi kehidupan di masyarakat, jika tidak disikapi dengan penuh kearifan, maka akan mempengaruhi fitroh ibadah puasa itu sendiri.

Dalam hal ini perlu kiranya mecari tetek bengek dari budaya konsumerisme yang saat ini sungguh telah menjadi virus menjangkiti masyarakat.

Konsumerisme sering kali dipandang sebagai sebuah budaya yang terlahir dari perkembangan kapitalisme (Varul, 2017). Kapitalisme menyebabkan komoditas dapat dengan mudah terdistribusi ke berbagai kelas dan kalangan di seluruh penjuru dunia. Tujuan dari kapitalisme adalah meningkatkan level konsumsi. Yang mana hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan jumlah konsumer, meningkatkan tingkat konsumsi, atau dengan mengkombinasikan keduanya (Migone, 2017). Budaya konsumerisme yang muncul akibat tingkat konsumsi inilah yang kemudian mendominasi sistem kapitalisme.

Sistem kapitalisme sendiri adalah sebuah model ekonomi yang mana mengedepankan keuntungan pasar. Kondisi ini kemudian memunculkan persaingan yang ketat diantara aktor-aktor ekonomi yang selanjutnya menantang mereka untuk dapat memproduksi lebih sekaligus tetap menjaga tingkat konsumsi masyarakat pada level yang konstan (Wright & Rogers, 2018). Ekonomi kapitalis akan berkembang ketika perusahaan-perusahan mampu menciptakan keuntungan dari penjualan barang dan jasa. Dan demi meningkatkan penjualan, aktor-aktor ekonomi berusaha untuk memaksimalkan kepuasan publik atas produk-produk yang mereka tawarkan melalui berbagai macam advertising dan strategi pemasaran, serta didukung melalui kebijakan pemerintah yang akan membantu perkembangan pasar. Dengan semakin meningkatnya produktivitas kemudian berlanjut kepada ekspansi pasar yang semakin meluas, akan berdampak pada pertumbuhan tingkat konsumsi masyarakat.

Dengan banyaknya strategi-strategi yang dibuat oleh perusahaan, menjadikan masyarakat akan lebih tertarik dan terkesan untuk membeli produk yang diiming-imingkan tersebut. Maka dari itu, dari sini dapat kita simpulkan bahwa tingkat konsumerisme yang ada di kalangan banyak masyarakat khususnya dibulan Ramadhan ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perusahaan yang memproduksi berbagai macam barang yang diluncurkan di masyarakat.

Apa yang harus dilakukan agar terhindar dari budaya konsumerisme?. Sederhananya adalah dengan membentengi diri tentang kesadaran bahwa selain budaya konsumerisme itu dilarang oleh agama juga dari dampaknya dalam kehidupan kita dapat merugikan dan bahwa hidup yang berlibihan itu juga tidak baik.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa...


Penulis: Syaharuddin Zaruk
(Mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Negeri Makassar. Anggota Front Mahasiswa Demokratik. Bercita-cita berhenti merokok dan berharap suatu saat nanti memiliki istri yang mempunyai lesung pipi)

No comments