Header Ads

test

Perjuangan Mahasiswa: Antara Revolusi Sampai Mati atau Sampai Skripsi

(Sejarah Panjang Perjuangan Mahasiswa)

Pernah suatu hari, sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, saya bersama kawan-kawan mendiskusikan salah satu materi suplemen “Gerakan Mahasiswa: Antara Teori dan Praktek” karya Ernest Mandel. Seusai diskusi, kami bercerita lepas dan salah satu dari kami mengeluarkan pertanyaan guyonan, kira-kira seperti ini: “kita belum tau sebagai mahasiswa, apakah teriakan revolusi akan menggema sampai mati atau sampai skripsi?” seketika saya bersama kawan-kawan yang lain tertawa terbahak-bahak.

Baru sekarang saya berniat cukup serius untuk tanggap menjawab guyonan itu sebab mengandung pertanyaan-pertanyaan inheren yang bisa menjadi evaluasi bagi aktivis gerakan mahasiswa kontenporer yang notabene kata “Revolusi Sampai Mati” disematkan dalam lagu dan sering dinyanyikan oleh mahasiswa diselah-selah aksi demonstrasi. Saya tidak tau apakah mereka paham atau tidak, yang pastinya Revolusi itu bukan hal yang main-main.

Semoga akan terjawab dalam uraian panjang sejarah perjuangan gerakan mahasiswa dalam mengawal dan menuntaskan Revolusi, ditinjau dari segi perspekti Ideologi Politik Organisasi tertentu.

***

Kata Revolusi bukan hal yang baru lagi bagi aktivis gerakan mahasiswa. Kata itu sering dilontarkan dari beberapa rentetan kajian dan perdebatan intelektual mahasiswa baik dalam ruang lingkup organisasi internal kampus maupun organisasi eksternal kampus.

Soekarno pernah mengatakan bahwa Revolusi itu memerlukan fase karena bukanlah sebuah kejadian, melainkan sebuah proses. Di sini, Soekarno menyebut revolusi sebagai sebuah proses dinamis dan dialektis: proses menjebol dan membangun. Tan Malaka juga pernah mengatakan bahwa pertentangan kelas adalah watak sejarah yang menciptakan revolusi. Pertentangan kelas di Prancis, Inggris, Rusia pada akhir dan awal abad 18-19 telah melahirkan revolusi besar yang menentukan gerak maju sejarah awal pertentangan kelas dalam kapitalisme modern. Revolusi besar ini bisa menjadi pelajaran bagi masa depan republik Indonesia yang masih ditindas oleh Belanda saat itu.

Dalam konteks historinya, Perjuangkan Revolusi yang meletus diberbagai belahan dunia tak lepas dari peranan-peranan aktivis gerakan mahasiswa yang punya visi yang besar akan perubahan kearah tatanan social ekonomi politik yang berpihak kepada rakyat tertindas.

Mahasiswa Dalam Pusaran Revolusi

Siapa yang tidak kenal Rudi Dutschke, pemimpin mahasiswa Berlin yang karismatik, terkemuka tahun 1960-an, dialah yang menginisiasi long march melalui institusi kekuasaan untuk menciptakan perubahan radikal dari dalam pemerintahan dan masyarakat jerman. Kemudian di Hungaria dalam perjuangan revolusi kemerdekaan menuntut kebebasan dari Uni Soviet ini kemudian dimotori oleh Dewan Mahasiswa Revolusioner. Terakhir, tak lupa Perjuangan mahasiswa Yunani melawan rezim Papandreou menuntut kebebasan, demokrasi, keadilan sosial dan HAM. Decade tersebut mahasiswa dalam perjuangan yang berdarah-darah dan tewas sebagai martir Revolusi. Mahasiswa Perancis hadir sebagai pelopor dalam pemogokan umum selama dua bulan pada Mei - Juli 1968 yang menyebabkan krisis berkepanjangan dan tercatat sebagai krisis yang paling hebab di Prancis abab 20. Beberapa tahun sebelumnya revolusi Amerika Latin terlebih dahulu membara. Gerakan mahasiswa berbasama dua sejoli tokoh Revolusiner Che Guevara dan Fidel Castro berhasil menundukkan Diktator Batista dengan kekuatan bersenjata. Tahun 1928, mahasiwa Bolivia mengusung dua tuntutan yaitu otonomi kampus dan partisipasi mahasiswa dalam pemerintahan kampus. Gerakan Mahasiswa di Afrika. Revolusi Aljazair meletus 1 November 1954 menuntut kemerdekaan dari penjajahan Perancis. Perlawanan masyarakat Aljazair tak lain adalah unsur-unsur mobilisasi aktivis mahasiswa.

Dari itu, menyulut berbagai gerakan mahasiswa di seluruh Eropa bahkan seantero jagat raya gerakan aktivis mahasiswa mulai menemukan tradisi kesatuan teori dan paraktik untuk memperjuangkan dan mempertahankan Revolusi.

Tuntutan perjuangan mereka tidak hanya sekedar pada ruang lingkup kampus semata, mereka telah keluar dari batas-batasnya. Sebab gerakan itu mulai menanggapi masalah-masalah sosial dan politik yang tidak langsung berhubungan dengan apa yang terjadi di dalam universitas. Mereka terlibat dalam berbagai aksi  solidaritas dengan perjuangan pembebasan revolusioner di negara-negara Dunia Ketiga. Kalangan mahasiswa yang sama kemudian mengambil tempat di depan dalam perjuangan mempertahankan revolusi Vietnamm melawan perang agresi imperialisme Amerika. Di Jerman, simpati kepada orang-orang terjajah dimulai  dari titik yang unik. Gerakan protes mahasiswa yang besar dipicu oleh aksi solidaritas dengan buruh, petani dan mahasiswa dari sebuah negara Dunia Ketiga lainnya.

Sebagai kemajuan, perjuangan mahasiswa telah menemukan pondasi ideologis, analisis, dan taktik perjuangan dengan tuntutan solidaritas yang makin maju atas pembebasan bangsa Dunia Ketiga dari jerat kolonialisme dan Imperialisme yang tengah mengakar kuat mengeksploitasi bangsa jajahan.

Mahasiswa untuk Revolusi Indonesia

Indonesia termasuk Negara Dunia Ketiga. Ia bagian dari bangsa yang terdorong untuk lepas dari segala bentuk penindasan dan penjajahan oleh kolonialisme belanda, dan Imperialisme Jepang. Bangsa yang puluhan tahun diperjongos untuk kepentingan ekonomi politik bangsa lain. Hingga akhirnya di tahun 1945 baru mendapatkan hak menentukan nasib sendiri sebagai bangsa Indonesia yang merdeka.

Jauh ditahun-tahun sebelum Indonesia merdeka, banyak catatan sejarah memuat perjungan Pemuda/mahasiswa yang terlibat dalam perjuangan politik melawan Kolonial Belanda. Siapa yang tidak kenal Tirto Adhi Suryo  sebagai bapak Pers Indonesia. Ia adalah salah satu sosok pemuda peletak embrio perlawanan terhadap Kolonial yang paling maju di samannya. Mendirikan redaksi koran Medan Priayi sebagai poros menyalurkan kritik terhadap pemerintahan Hindia Belanda, hingga akhirnya terlibat dalam pembentukan Sarikat Dagang Islam tahun 1909, yang diketahui sebagai tonggak awal munculnya politik mobilisasi massa yang besar-besaran diluar enclave kolonial. Dari SDI menjadi Sarikat Islam (SI) tahun 1912 dan memiliki anggota sebanyak 2.000.000. Baru pada tahun 1921 pecah jadi  Sarekat Rakyat.

Pada tahun 1928 aktivis-aktivis pemuda berkumpul dari berbagai Kepulauan Nusantara meneguhkan kesetiaan mereka membentuk bangsa baru dengan mendeglarasikan Sumpah Pemuda sebagai landasan pembebasan dari Kolonialisme.

Gagasan-gagasan baru-pun telah muncul sedemikian rupa. Tercermin dari ideologi, politik dan organisasi. Yang mendapat pengaruh atas gagasan bentuk negara dan kehidupan politik menduplikat pengalaman tiga revolusi besar: revolusi Borjuis di Eropa, Amerika abad ke-20 dan revolusi proletary yang terjadi di Rusia 1917. Ini kemudia memuncul identitas baru dari warisan revolusi modern dan perlahan meninggalkan budaya-budaya tradisional. Gagasan-gagasan baru membatuk isian nyata sebagai landasan bagi budaya baru Indonesia.

Inilah dikatakan oleh Takashi Shiraishi dalam bukunya Zaman Bergerak “kesadaran Nasional Indonesia, dengan bahasa Melayu/Indonesia sebagai bahasa politik merdeka, dengan surat kabar, rapat-rapat umum, pemogokan dan partai-partai yang terbagi secara ideologis--semua dipahami generasi baru sebagai tradisi gerakan”.

Akhirnya munculnya Soekarno yang menulis artikel seruan persatuan Nasionalisme, Islam dan Marxisme. Iya menyeruka persatuan untuk mencapai Indonesia Merdeka. Menandai dibukanya era baru dan menjadikan Soekarno sebagai sosok pemimpin generasi baru yang mendorong kesadaran baru.

Gerakan anti colonial semakin terang-terangan. organisasi politik dan gerakan politik mobilisasi massa rakyat 1945 berhasil mem-proklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Mempertahankan Revolusi dan Kontra Revolusi

Soekarno pernah mengatakan “perjuanganku lebih mudah hanya karena melawan Kolonial belanda, perjuangan kalian akan lebih sulit karena akan melawan bangsamu sendiri”. Terbukti Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, tantangan terberat yang di hadapi mahasiswa dan seluruh rakyat Indonesia adalah membuat pola mempertahan revolusi. Alih-alih mempertahan revolusi justru kontra revolusi semakin menampakkan batang hidungnya.

Politik kontra revolusi delakukan oleh mereka sisa-sisa yang pernah punya hubungan dekat dengan colonial Belanda. Mereka adalah polotikus-intelktual yang dididik oleh sistem colonial—perwira militier KNIL (angkatan darat kerajaan Hindia Belanda). Para intlektual tersebut mengorganisir diri dalam Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Program politik mereka mengilhami model ekonomi perusahaan bebas, demokrasi parlementer liberal, dan negara kesejahteraan, tapi mereka ingin mencapai kesemuanya tidak melalui jalan politik gerakan massa seperti revolusi yang terjadi di eropa, namun menyandarkan pada kerjasama dengan politik imperialism barat. Ini jelas bertentang dengan cita-cita revolusi yang di perjuangan bangsa Indonesiadari awal.

Banyak perwira tantara bekas didikan belanda duduk dalam jajaran baru perwira. Didalamnya adalah Staf Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), diantaranya Jenderal Nasution dan Jenderal Soeharto, kesemuanya bekas KNIL yang kemudian merebut kekuasaan dengan bekerjasama dan memprofokasi beberapa gerakan mahasiswa dari cipayung mengkudeta Seokarno dan membumii hanguskan tradisi gerakan mobilisasi rakyat dari tahun 1965-1967. Ini kemudian menjadi cikal bakal kapitalis bersenjata berkuasa dan dimulainya politik massa mengambang—segala aktivitas pilitik mobilisasi gerakan massa terlarang. Disamping itu gerakan mahasiswa dan rakyat dalam masa-masa sulit dibawah rezim junta militer Soeharto, mereka selalu diperhadapkan pada todongan senjata yang membuat gerakan mahasiswa dan rakyat makin tiarap. Ini mengindikasikan gerakan mahasiswa dan rakyat telah kalah telak oleh kekuatan militer dan imperialism barat dalam mempertahankan Revolusi Nasional.

Sebelumnya, dalam masa-masa terror oleh Soeharto—berkamuflase agar mendapat dukungan dari sipil terutama dari kelompok mahasiswa dan memamerkan kepada public bahwa mereka mendapatkan dukungan sipil dari tindakan-tindakannya, dalam hal ini adalah pembelejetan terhadap gerakan kiri dan pendukung Soekarno.

Mereka berhasil mendapat dukungan dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang notabene di prakarsai oleh Mayor Jenderal Syarif Thayib. KAMI yang terhimpun oleh beberapa organisasi mahasiswa yang religious dan konservatif, mereka mengusai jalan-jalan dalm aksi-aksi terhadap pemerintahan Soekarno setelah sebelumnya organisasi pesaingnya yang berafiliasi ke PKI yaitu Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dilarang dan dibasmi secara beruntun sehingga banyak dari CGMI dan GMNI ditahan dan dibunuh. Dari itu kemudia gerakan mahasiswa di definisikan ulang sebagai gerakan yang hanya terdiri dari gerakan anti-kiri yang didominasi oleh KAMI. Dan suatu fase menurut hemat penulis sebagai masa tersungkurnya gerakan mahasiswa dan terseret kedalam kepentingan oligarki dan elit borjuasi nasional.

Munculnya Gerakan Baru

Baru pada tahun 1973-1974 muncul gerakan mahasiswa. Dimana gelombang baru protes mahasiswa melanda Indonesia. Ini dilatar belakangi oleh membanjirnya modal luar negeri dengan jumlah yang cukup signifikan, memaksa perusahaan-perusahaan kecil Indonesia bangkrut. Aksi mahasiswa ini berada dalam suasana dimana keresahan terhadap pemerintahan Seoharto telah menarik berbagai kelompok yang dulunya bagian dari pendukung Orde Baru. Seruannya agar ada strategi baru ekonomi dicanangkan oleh Soeharto, serangannya apa yang disebut ekonomi teknokrat dan berseru agar dibubarkannya asisten pribadi Presiden, tapi belum pada tataran seruan mencopot Soeharto. Ini dikarenakan gerakan yang muncul masih bersifat konservatif, apalagi ditunggangi oleh kelompok militer yang menentang Soeharto.

Dalam perkembangannya, periode politik mahasiswa sepanjang 1973 bertambah sengit, dengan hadirnya beberapa sosok mahasiswa diantaranya Hariman Siregar, Syahrir, Chalid dan terlebih lagi penyair dan dramawan Rendra yang melancarkan kampanye secarah terpisah dari parallel, ditujukan terutama pada meningkatnya penindasan dan peran tantara. Ia melakukan kampenya lewat media melalui drama-drama, dan puisi-puisi perlawanannya untuk mengkritik pemerintah. Kampanye tersebut punya ungsur mobilisasi politik dalam aktivitas komfrensi media, pertemuan terang-terangan dengan pejabat public, dan ikut terlibat dalam protes-protes jalanan.

Ali Murtopo pencetus gagasan Massa Mengambang takut bukan kepayang, sebab gagasan politik massa mengambangnya tidak membatasi peran mahasiswa dalam memobilisasi massa. Itu kemudian memberikan ruang bagi gagasan-gagasan lama untuk hidup kembali.

Bukan hanya mahasiswa, ternyata pada periode selanjutnya 1977 gerakan buruh dan petani mulai kembali menemukan tradisi lamanya. meningakatnya gelombang protes pemogokan buruh-buruh generasi baru, untuk menuntut peningkatan upah dan kondisi yang lebih baik, khusunya hak mogok. Ini dilatar belakangi peningkatan tenaga buruh pabrik, khususnya disektor tekstil.

Pada periode 1989-1990, kembali muncul untuk pertama kalinya mobilisasi gerakan massa non-mahasiswa sekala besar. 10.000-an massa petani dan buruh berkampanye menuntuk pengembalian tanah yang hilang akibat pembangunan komersil.

Gerakan Politik

Dari berbagai rentetan periode kembalinya mobilisasi gerakan massa kepermukaan dalam merespon berbagai gejolak penindasan yang dilakukan rezim Orde Baru dan juga sebagian reaksi dari kegagalan gerakan mahasiswa pada tahun1978 dan buntunya gerakan NGO serta mahasiswa pada 1980-an. Sekelompok aktivis mahasiswa, LSM, aktivis buruh dan petani berinisiatif membentuk partai politik sebagai pengejahwantahan dari alfanya alternative politik yang dapat mengakomodasi berbagai ungsur kelompok perlawanan atas dasar politik mobilisasi. Maka dideklarasikanlah Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 2 mei 1994 yang dihadiri beberapa tokoh demokrasi Indonesia yang terkemuka, diantaranya Adnan Buyung Nasution dari YLBHI, Muchtar Pakpahan dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), Dedi Triawan dari WALHI, dan Mulyana Kusuma.

Tidak lama setelah PRD dideklarasikan kemudian mendapat respon dari Menko Polkam, menganggap aktivitas PRD adalah bentuk pembangkangan kemudian dilarang. Atas pelarangan PRD tersebut terjadi banyak kecaman dari beberapa organisasi tingkat bawah yang berafiliasi ke PRD. Puncaknya setelah penangkapan terhadap pimpinan PRD tahun 1996 maka terjadi gelombang protes besar-besaran yang hamper dilakukan di setiap kota di seluruh Indonesia pada bulan maret-juli 1996. Dari inilah detik keruntuhan Soeharto dimulai.

PRD kemudian mengorganisir 2.000 buruh dan 1000 mahasiswa menggabungkan diri bergerak ke Jakarta namun dihadang oleh tantara. Dua minggu kemudian 19 juli 20.000 buruh dari 10 pabrik di daerah Kawasan industry Surabaya, mogok dan berdemonstrasi. 20 orang ditahan dan beberapa yang terlukah akibat perkelahian dengan tantara. Kemudian terjadi peristiwa yang dikenal kerusuhan 27 juli 1996 dimana demonstrasi bersatu dengan kerusukan massa liar dan dianggap sebagai titik tolak kejatuhan Soeharto. Namun setelah itu PRD mendapat stigma dianggap sebagai PKI gaya baru membuatnya kembali tiarap sebagai gerakan bawah tanah dan 30 pemimpin PRD ditangkap. Baru pada tahun 1998 mereka kembali memimpin gerakan mobilisasi massa untuk melengserkan Soeharto.

Reformasi dan Kejatuhan Soeharto

Dalam Pergulatan Menuntaskan Revolusi Demokratik yang Terinterupsi Sejak September 1997 krisis ekonomi global ikut menyapu Indonesia, nilai rupiah melemah terhadap dolar AS, harga-harga barang kebutuhan pokok mulai merangkak naik, banyak perusahaan yang gulung tikar akibatnya banyak buruh yang ter-PHK. Dampak ini secara langsung juga menimpa mahasiswa, terutama mahasiswa perantauan, harga makanan melonjak, kertas naik, belum lagi orang tuanya yang di PHK atau perusahaan mereka yang bangkrut. Dari kondisi seperti ini, aksi-aksi mahasiswa mulai marak kembali, dengan tuntutan-tuntutan ekonomis, seperti turunkan harga. Akan tetapi kelompok mahasiswa radikal (dalam hal ini anggota PRD) yang masih minoritas secara kuantitatif tetap melancarkan tuntutan politik, seperti suksesi kepemimpinan nasional, pencabutan Dwi Fungsi ABRI. Secara perlahan, bersamaan dengan krisis ekonomi yang semakin memuncak, usaha-usaha kelompok radikal untuk menarik dari kesadaran ekonomis menjadi kesadaran politik mulai berhasil. Aksi-aksi mahasiswa yang semakin membesar mulai meneriakkan tuntutan politik, meminta Soeharto turun. Ini merupakan sejarah maju dalam gerakan mahasiswa di Indonesia. Tuntutan yang selama ini diharamkan tidak ditabukan lagi. Seperti halnya dalam tulisan Aspinal tentang tuntutan mahasiswa yang semakin politis: Tipe demonstrasi mahasiswa merupakan reduksi dari naiknya harga barang, menuntut dihapuskannya korupsi, kolusi dan nepostisme, dan menuntut reformasi. Dari awal kebanyakan protes secara ekplisit menuntut Soeharto turun dari jabatan sebagai presiden.

Ketika hari-hari terakhir Soeharto akan lengser, gedung DPR/MPR dikuasai mahasiswa, ratusan ribu mahasiswa menggelar mimbar bebas di gedung tersebut. Sementara di Yogyakarta, sehari sebelum Soeharto turun, sekitar satu juta rakyat – yang dipelopori mahasiswa Yogyakarta -- memenuhi alun-alun Utara, menuntut Soeharto mundur. Masa-masa ini merupakan masa-masa yang revolusioner bagi gerakan mahasiswa. Aksi-aksi mahasiswa dibeberapa tempat bahkan sudah menguasai RRI seperti yang terjadi di Surabaya, Semarang, Padang. Sementara di Medan, mahasiswa menguasai bandar udara. Dapat dikatakan aktivitas penerbangan, terutama penerbangan internasional, lumpuh total. Dalam kurun waktu ini juga bermunculan beratus-ratus komite mahasiswa, besar maupun kecil. Namun sayangnya gerakan yang sudah membesar ini hanya mampu menghasilkan pengalihan jabatan presiden dari Soeharto ke Habibie.

Selanjutnya, ini akibat kekakuan dalam menerapkan stratag dan ketidakcerdasan dalam memanfaatkan setiap celah yang ada, lama kelaman gerakan menjadi mati, aksi-aksi tidak ada lagi dengan begitu konsolidasi menjadi lemah. Dapat kita lihat sendiri gerakan masih terpecah-pecah sampai saat ini. Walupun gerakan bisa membesar, hal ini lebih disebabkan oleh momentum dan isu yang sama.

Apa Penyebabnya ?

Sektarianisme menyebabkan gerakan menjadi elitis, tidak mau bergabung dengan sektor rakyat lainya. Akibatnya, pertama, rakyat yang berperan aktif dalam demonstrasi-demonstrasi tidak terpimpin. Kedua, kekuatan mahasiswa dan massa rakyat yang seharusnya bersatu menjadi terpecah belah. Banyak diantara organisasi mahasiswa yang masih termakan propaganda militer, apabila aksi mahasiswa bergabung dengan sektor rakyat lainnya akan menimbulkan kerusuhan. Kesalahan-kesalahan seperti ini tetap terulang dan terjadi juga pada gerakan-gerakan mahasiswa sebelumnya. Keempat, tidak adanya organ nasional.

Dapat dikatakan setelah SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) dihancurkan setelah peristiwa 27 Juli 1999, belum ada organ nasional yang terbentuk. Akibat tidak adanya organ nasional ini, berdampak pada tidak adanya kesatuan aksi diantara gerakan mahasiswa yang ada. Masing-masing gerakan berjalan sendiri-sendiri – baik tuntutan maupun strategi taktik. Tidak adanya kesatuan aksi, jelas sekali mengakibatkan gerakan menjadi terfragmentasi, tidak jelas apa yang sebenarnya akan dituju. Akibat selanjutnya, disamping gerakan menjadi lemah juga membingungkan massa rakyat sendiri.

Mahasiswa Kontenporer

Setelah periode gerakan rakyat dan mahasiswa gagal menuntaskan Revolusi Demokratik pada tahun 1998. Saat, ini kita hamper jarang menemukan mobilisasi gerakan rakyat yang konsisten, terlebih pada gerakan mahasiswa yang semakin nyaman berkutat pada kebuntuan-kebuntuan gerakannya.

Gerakan mahasiswa kontenporer sebagian besar teraleinasi terhadap persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi Rakyat, terbukti dengan semakin ekslusifnya formulasi konsep gerakan mahasiswa yang lebih mengedepankan pola pendidikan untuk menciptakan kader ivent organiser dibanding menciptakan kader Organiser Rakyat. Parahnya, sebagian besar mahasiswa tidak mampu lagi menjunjung tinggi esensi dari independensi mahasiswa itu sendiri yang menggadaikan idealismenya dengan terjun kedalam politik praktis disetiap menjelang pemilukada. Tradisi live in (hidup berjuang bersama rakyat) oleh mahasiswa telah di lupakan, terbukti dengan sedikitnya mahasiswa yang terlibat dalam advokasi melalui jalur non letigasi mengawal kasus, penggusuran kaum miskin kota, perampasan tanah petani, dan penindasan terhadap Buruh. Serta minimnya mahasiswa yang menyikapi semakin meningkatnya pemberangusan demokrasi, Persolan Reklamasi, dan liberalisasi pendidikan sebagai issu normatif mahasiswa itu sendiri.

Menurut hemat penulis, ini menandakan gerakan mahasiswa semakin elitis dan pragmatis terhadap persoalan-persoalan yang kongrit dihadapi masyarakat, disamping gerakan mahasiswa mengalami pragmentasi yang akut.

Mungkin juga masih terlalu sombong dengan mengklaim dirinya satu-satunya harapan masyarakat, iya masih terperangkap pada romantisme sejarah tentang heroismenya tahun 1998. Dilain sisi gerakan Buruh justru sedang membangun formulasi gerakannya dengan belajar dari kegagalan dan capai-capain masa lalu. Gerakan buruh tengah menyiapkan landasan material untuk membentuk alat politik alternative sebagai pengejahwantahan dari partai-partai politik saat ini yang notabene perpanjangan tangan dari kelas kapitalis. Lalu Gerakan mahasiswa apa?

Banyak pula saya melihat aktivis mahasiswa yang dulunya terbilang militan dari segi ideologis dan praksisnya dilapangan. Justru setelah mendapat gelar sarjana—mengorganisir dirinya dalam politik praktis yang jauh dari kata membangun dan menguatkan pondasi gerakan mahasiswa apalagi gerakan rakyat secara umum, malah berbalik menyerang dan terkadang nyinyir ketika melihat aksi demonstrasi mahasiswa. Ini kemudian yang diikuti junior-juniornya dikampus, mengikuti jejak kandanya yang “REVOLUSINYA TERNYATA TIDAK SAMPAI MATI TAPI SAMPAI SKRIPSI”.

Agar tidak mendapat stigma seperti diatas, perlu kiranya gerakan mahasiswa kembali membangun konsep, metode ataupun formula baru untuk mereposisi gerakan mahasiswa agar posisi tawarnya dihadapan rezim bisa diperhitungkan kembali. Namun untuk langkah awal adalah kembali menguatkan tradisi-tradisi klasik mahasiswa yang relevansinya tidak pernah dimakan zaman,  yaitu:

1. Giat membaca

Membaca seharusnya melekat pada mahasiswa sebagai kaum intlektual. Namun bagi sebagian besar mahasiswa sekarang justru membaca dianggap hal yang remeh temeh ini kemudian menjadi salah satu penyebab banyaknya mahasiswa yang termakan berita hoax. Padahal membaca itu adalah hal yang utama untuk memperluas wawasan dan gagasan dari berbagai literatur yang saat ini mudah didapat, apakah itu tentang filsafat, sejarah, ekonomi, politik, sosial budaya bahkan agama.

2. Diskusi dan Berdebat

Salah satu tradisi mahasiswa yang paling urjen adalah, diskusi dan berdebat. Karena dengan itu mahasiswa dapat bertukar dan berbagi wawasan dan gagasan dengan yang lainnya. Dan juga dengan diskusi dan berdebat dapat melahirkan wacana-wacana baru sesuai dengan kontennya dan dieksekusi melalui kerja yang teratur dan terformat.

3. Menulis

Menulis adalah hal yang paling penting sebab dalam konsepnya kemampuan menulis lahir dari kebiasaan membaca dan berdiskusi. Dengan menulis juga sebagi bentuk merawat gagasan-gagasan dalam fikiran dengan menuangkannya dalam tulisan.

4. Aksi

Aksi menjadi menjadi penting sebab iya adalah bentuk rill tahap Revolusi. Aksi juga adalah bagian langkah kongkrit dalam perjuangan. Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dikarena adanya aksi-aksi politik mobilisasi massa untuk mengusir kolonialisme. Begitupun sampai sekarang aksi masih relevan digunakan  untuk menuntut segala kebijakan yang dianggab tidak adil.

5. Mengorganisir

Dalam artian sederhananya adalah bagaimana mengorganisasikan kelompok masyarakat yang terbelakang agar sadar akan hak-haknya selama ini dikangkangi. Memberikan mereka pemahaman melui pendidikan dan memajukannya dalam bentuk kesadaran politik. Dengan mengorganisir mahasiswa dapat memahami persoalan mendasar yang dihadapi rakyat.

Kelima point diatas menurut hemat penulis adalah hal yang paling mendasar untuk merawat nalar kritis dan idealisme mahasiswa agar tetap keberpihakannya ada pada rakyat.

Semoga setelah membaca tulisan ini dapat mengilhami khususnya bagi mahasiswa agar Revolusinya Sampai Mati, Bukan Sampai Skripsi.

***

Catatan: Jika dalam tulisan ini ada kekeliruan dan kurang kesepahaman oleh para pembaca. Penulis meminta maaf dan jika perlu silahkan mengajak penulis untuk berdiskusi lebih jauh. Penulis dapat ditemui dikediamannya Jl. Syekh Yusuf, Kompleks Kodam Katangka, Blog G22, No.4.

Penulis: Syaharuddin Zaruk
(Mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Negeri Makassar. Anggota Front Mahasiswa Demokratik. Bercita-cita berhenti merokok dan berharap suatu saat nanti memiliki istri yang mempunyai lesung pipi)

No comments