Header Ads

test

Ayo Rubah Cara Kita Berorganisasi

Dalam beberapa pembahasan yang lalu, “Sekali Lagi tentang Ormas dan Orpol”, telah diuraikan landasan teoritik untuk mengatur pembagian kerja yang lebih rinci antara Ormas – Front – Orpol. Untuk lebih memerinci pembahasan tersebut, maka di bawah ini akan diuraikan lebih lanjut tentang bagaimana organisasi revolusioner itu bisa berjalan.

Dan bagi organisasi  yang masih setia pada tujuan-tujuan memperjuangkan ideology rakyat pekerja, aku mengusulkan beberapa hal berikut ini, berdasarkan landasan teoritik yang telah kuuraikan pada tulisanku seperti disebut di atas. Usulan-usulan di sini akan memprovokasi akal-sehat Anda. Jika Anda bukan orang yang progresif, yang memiliki pikiran terbuka atas perubahan, jangan membaca tulisan ini. Anda sudah diperingatkan. Selamat membaca, jika berani.

Kita Butuh Rutinitas

Tradisi organisasi hanya bisa tumbuh dengan adanya aktivitas rutin. Aktivitas rutin mengembangkan keteraturan (order) dalam organisasi, mengembangkan sifat dapat dipercaya (dependability), menjamin adanya kelenturan (flexibility) dan persaudaraan (fraternity) dalam organisasi.

Keteraturan sangat penting. Orang berorganisasi untuk bisa mengatur gerak bersama. Rutinitas ditemui dalam tiap organisasi yang sukses. Tim sepakbola, misalnya, harus rutin berlatih dan bertanding. Tiap pemain harus mengenal betul kelebihan dan kelemahan pemain lainnya. Untuk inilah rutinitas diperlukan, supaya kerjasama di lapangan bisa berlangsung mulus. Mereka yang berlatih silat, harus terus-menerus melatih gerakannya, supaya gerakan itu akan keluar secara reflek dalam pertarungan maupun pertandingan. Militer, lebih-lebih lagi, harus mengisi hari-harinya dengan rutinitas, sebagai bagian pembentukan disiplin. Disiplin diperlukan agar sekian ratus ribu orang bisa bergerak sebagai satu tubuh dan satu pikiran. Untuk itu, tiap orang harus dibiasakan menjalankan tugas-tugas remeh dalam rutinitas.

Sifat dapat dipercaya juga akan tumbuh dari rutinitas. Bayangkan saja jika ada orang yang mendapat selebaran organisasi, lalu memutuskan untuk melihat seperti apa organisasi yang mengeluarkan selebaran ini. Dia akan mencari alamat yang ditulis sebagai sekretariat organisasi. Barangkali ia akan menelpon, lalu membuat janji untuk bertemu. Tapi barangkali ia akan langsung mampir. Bayangkan jika ia menemui hanya satu orang di sekretariat. Bayangkan jika ia hanya menemui sekretariat yang kosong. Bayangkan jika ia menemui sekretariat yang diisi oleh orang-orang yang sedang bermain kartu atau Playstation. Tentunya akan lebih mudah untuk membuat orang lain percaya dengan organisasi kita jika kapanpun, kapanpun, seseorang datang ke sekretariat, ia menemukan sekumpulan orang sedang berdiskusi, mengadakan pendidikan, menulis laporan kerja, atau memproduksi bahan-bahan propaganda. Kalaupun ia datang di mana sedang tidak ada kegiatan, ia tetap dapat bertemu beberapa orang petugas piket yang dapat diajaknya berdiskusi. Dari petugas piket itu ia dapatkan jadwal aktivitas yang dapat diikutinya dalam kunjungannya yang akan datang. Bisa dibayangkan perbedaannya?

Kelenturan juga akan muncul dari rutinitas. Jika seseorang tahu bahwa organisasi mengadakan tiga kali diskusi per minggu, ia dapat mengatur jadwalnya jauh-jauh hari. Seperti kita tahu jam tayang film di bioskop. Kita tahu bioskop buka tiap hari dengan tiga jadwal tayang. Jika kita ingin menonton film, kita dapat memilih kapan kita akan menonton. Kita dapat mengatur waktu kita agar pekerjaan kita tidak terganggu, dan kita tetap bisa menikmati film-film Hollywood terbaru, menelan mentah-mentah propaganda Amerika. Tanpa adanya aktivitas rutin, semuanya akan dilangsungkan secara mendadak. Dan, bagi kelas pekerja, akan sulit sekali membuat jadwal dadakan. Tidak seperti ketika mengorganisir mahasiswa, yang relatif lapang
waktu luangnya.

Persaudaraan juga merupakan proses yang membutuhkan rutinitas. Semua orang yang berpacaran harus secara rutin bertemu, berkencan, bercinta. Tanpa itu, hubungan tidak akan berjalan. Terlebih lagi sebuah organisasi yang berisi sekian ratus atau ribu orang. Tanpa adanya rutinitas pertemuan berkonteks kegiatan organisasi, tidak akan muncul rasasetiakawan. Jika anggota organisasi lebih banyak bertemu dalam permainan bola, atau permainan kartu, atau mabuk bersama, maka persaudaraan yang akan terbangun adalah satu dalam kemabukan, satu dalam kesenangan – bukan satu dalam perjuangan membebaskan rakyat tertindas.

Kita Butuh Organiser Purna-waktu (full timer)

Ada banyak organisasi, terutama organisasi sukarela, yang bisa hidup dan berkembang dengan baik hanya dengan mengandalkan kegiatan rutin – tanpa memerlukan organiser purna waktu. Kita bisa mengambil contoh Karang Taruna, misalnya. Asal masih ada kegiatan Tujuhbelasan, atau turnamen catur tahunan, atau kompetisi gaplek dan karambol bulanan, organisasi ini masih akan terus bertahan.

Tapi, begitu kita meningkatkan standard aktivitas yang harus dilakukan, menaikkan cakupan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan itu, persoalannya mulai berubah besar. OSIS, misalnya. Organisasi ini bisa saja dijalankan dengan cara seperti menjalankan Karang Taruna. Tapi, jika para pengurus OSIS cukup berambisi, dan ingin melakukan kegiatan Lomba Debat antar Sekolah, mulailah ada kebutuhan untuk meninggalkan kelas. Biasanya Guru BP atau Guru Pembimbing OSIS berkeliling ke kelas-kelas memanggil para pengurus OSIS yang diberi ijin meninggalkan kelas untuk mengurus ini atau itu. Para pengurus Senat atau BEM di kampus-kampus memiliki kebutuhan yang lebih besar untuk mencuri waktu kuliah demi menjalankan agenda organisasinya.

Terlebih lagi sebuah organisasi politik yang berambisi gila-gilaan: mengangkat rakyat pekerja ke tampuk kekuasaan. Bisa dibayangkan berapa banyak waktu, tenaga dan sumberdaya lainnnya yang harus dikerahkan demi tercapainya tujuan ini. Bisa dibayangkan jika tiap anggota hanya menggunakan tujuh jam seminggu untuk keperluan I-P-O, bagaimana mungkin tujuan ini bisa tercapai?

Untuk itulah kita memerlukan orang-orang yang bekerja purna-waktu. Mereka ini, sesuai dengan rumusan yang dibuat dalam konstitusi kita, bukanlah orang-orang yang bekerja 24 jam sehari bagi organisasi, melainkan yang menyerahkan semua waktu luangnya demi perjuangan kelas pekerja – itu artinya delapan jam sehari (dengan asumsi delapan jam dipakai bekerja mencari nafkah dan delapan jam lagi untuk beristirahat). Dalam delapan jam, setidaknya satu selebaran akan dapat diproduksi dalam sehari. Dalam delapan jam, setidaknya satu diskusi telah diadakan. Dalam delapan jam, satu laporan telah selesai dibuat atau dievaluasi.

Mereka yang bekerja purna-waktu ini, tentunya tidak dapat menggantikan seluruh anggota. Tapi, mereka ini seharusnya diberi mandat oleh organisasi untuk mengkoordinasikan anggota-anggota lain yang waktu kerja organisasinya kurang dari delapan jam sehari, memberi semangat dan dorongan bagi anggota yang waktu kerja organisasinya kurang dari tujuh jam seminggu.

Agar kawan-kawan yang bekerja purna-waktu ini tidak terbebani dapurnya, maka anggota yang bekerja kurang dari tujuh jam seminggu bagi organisasi haruslah memberi dukungan material yang memadai – baik dalam bentuk bahan baku, alat kerja maupun dana. Kita tidak akan menggaji para pekerja purna-waktu ini, tapi hanya menyediakan sumberdaya yang cukup agar jangan sampai biaya yang dikeluarkannya dalam menjalankan tugas diambil dari jatah dapurnya.

Kita Butuh Tampil Lebih Sering di Muka Publik

Sebuah perusahaan multinasional membutuhkan iklan, itu kita sudah tahu. Tapi, di jaman yang konon sudah post-modern ini, iklan saja tidak cukup. Perusahaan besar tidak hanya harus membuat massa konsumennya mengenal produk, tapi juga mengikat kesetiaan konsumen pada produk tersebut. Oleh karena itulah mereka sekarang memerlukan alat yang disebut CSR, tanggung jawab sosial perusahaan. Mereka juga membuat berbagai acara yang semakin mengenalkan produk mereka pada masyarakat.

Kalau sebuah perusahaan besar, multinasional, tetap saja membutuhkan promosi, apalagi kita. Jika dibandingkan, kita ini sedang memproduksi sebuah ide, ide yang bertentangan dengan akal-sehat massa rakyat pekerja, akal-sehat yang pada saat ini dikendalikan oleh hegemoni kelas berkuasa. Maka, kita bukan hanya membutuhkan iklan, kita tidak hanya butuh agar massa mengenal kita – tapi kita butuh agar mereka paham dan setia pada ide yang kita usung.
Untuk itu, aktivitas semacam propaganda lewat internet saja tidak akan banyak gunanya. Sebagian besar massa rakyat pekerja belumlah terhubung pada internet saat ini. Kita harus lebih sering tampil di muka publik. Massa rakyat pekerja harus melihat keberadaan kita secara fisik. Para buruh, petani, nelayan, kaum miskin kota harus melihat secara langsung para pejabat penting dalam organisasi kita. Massa rakyat pekerja harus melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana para pejabat organisasi bekerja bagi kemenangan mereka. Mereka membutuhkan teladan yang terang dan tegas. Mereka harus menjumpai para angggota organisasi dalam keadaan bekerja di tengah mereka.

Kita membutuhkan aksi. Tidak harus berupa pawai-pawai besar yang diikuti ribuan orang. Pawai-pawai seperti ini haruslah dipandang sebagai alat untuk menguji apakah kehadiran kita di tengah massa telah cukup berpengaruh –bukan sebagai alat untuk mendapatkan pengaruh itu. Aksi-aksi yang harus kita lakukan adalah aksi-aksi kecil, yang dilakukan di tempat-tempat di mana massa rakyat pekerja berkumpul – di depan pabrik-pabrik, di perkampungan-perkampungan buruh. Bahkan mungkin juga kita membutuhkan aksi-aksi serupa di kampus-kampus. Aksi-aksi kita haruslah memperkenalkan pandangan-pandangan organisasi pada massa. Bisa aksi pembagian pernyataan sikap. Bisa aksi selebaran. Bisa aksi grafiti. Apa saja, asalkan massa melihat bagaimana kita bekerja.

Aksi-aksi ini harus dengan rutin dilakukan. Seminggu sekali atau dua minggu sekali. Sampai massa rakyat pekerja terbiasa dengannya, sampai mereka merindukannya, sampai intel memasukkannya dalam jadwal pengintaian rutin mereka.

Secara bergantian, tiap titik dalam kota harus disisir dengan aksi-aksi ini. Tidak boleh ada sudut kota  yang belum pernah mendengar nama organisasi kita,program-programnya, maupun sikapnya  berhadapan dengan situasiekonomi-politik tertentu.

Kelas Pekerja Harus Sudah Mulai Menjadi Pimpinan Gerakan Demokrasi

Kepemimpinan Kelas Pekerja? Apa itu? Bagaimana Kelas Pekerja bisa memimpin gerakan demokrasi? Dalam bentuk apa? Yah, sebetulnya sama saja dengan soal bagaimana Pengurus Pusat memimpin Pengurus Kota. Para pimpinan harus hadir di depan massa, harus dikenal oleh massa, harus membimbing massa bekerja, harus mendampingi massa merancang program dan berjuang mewujudkannya.

Dengan demikian, jika Kelas Pekerja mau memimpin gerakan demokrasi, maka kader-kader yang berasal dari kelas pekerja, dari buruh, harus tampil di depan organisasi-organisasi massa dari kelas dan sektor lain, mendampingi pembuatan programnya, membantu memperkuat organisasi-organisasi massa di luar kelas mereka, memberinya arahan dan juga diskusi-diskusi untuk memperkuat kesadaran kelas mereka.

Sebagai organisasi politik, para pimpinan mulai dari pusat sampai ke kota-kota haruslah membangun jembatan yang memungkinkan organisasi-organisasi massa dari berbagai kelas dan sektor untuk bertemu, mendiskusikan masalah masing-masing, dan saling berbagi bantuan. Bukan lagi solidaritas. Solidaritas sudah ketinggalan jaman. Yang kita perlukan adalah kerjasama organik lintas kelas. Di mana anggota-anggota gerakan mahasiswa membantu buruh mewujudkan programnya, di mana para kader buruh turun di kampus-kampus untuk membantu memperkuat gerakan mahasiswa, atau kombinasi lainnya.

Sudah bukan waktunya lagi kita membuat front atau aliansi yang sekedar berbasis isu atau berbasis momentum. Kerjasama yang dibuat haruslah berupa formasi yang lebih strategis, yang bertujuan meneguhkan kepemimpinan riil kelas pekerja di tengah kelas dan sektor lainnya.


Ditulis oleh: Ken Budha Kusumandaru
Sunday, 03 June 2007


Sumber Gambar: www.akademiye.org

No comments